Wayang-Wayang di Ruang Tamu
JUDUL:
Wayang-Wayang di Ruang Tamu
Penulis :
Titin Sumarni,S.Pd.I.
SINOPSIS:
Orang-orang sering berkata bahwa pernikahan adalah penyatuan dua jiwa menjadi satu. Mereka salah. Atau mungkin, mereka hanya beruntung tidak mengalami apa yang saya alami.
Dalam kasus saya, pernikahan bukanlah penyatuan dua jiwa. Pernikahan saya adalah proses di mana satu jiwa saya, perlahan-lahan, dikikis hingga habis, digantikan oleh ratusan perintah, larangan, dan ekspektasi dari dua wanita lain.
Di atas lemari kayu di ruang tamu saya yang sekarang ruang tamu yang sepi, tenang, dan hanya berbau kopi hitam terdapat sebuah foto. Foto itu diambil pada hari akad, tiga tahun lalu. Di sana saya tersenyum lebar, menatap Nita. Nita menatap saya dengan mata yang berkaca-kaca, terlihat begitu rapuh, begitu membutuhkan perlindungan. Dan di belakangnya, sedikit tersembunyi di balik buaian bunga melati, berdiri Naila. Ibu dari Nita. Wanita itu tersenyum tipis. Senyum yang dulu saya kira adalah senyum restu, kini saya sadari adalah senyum seorang pemenang yang baru saja mengambil alih kendali atas papan catur.
Buku ini bukan ditulis untuk menghakimi Nita. Tuhan tahu, saya masih mencintainya, atau setidaknya mencintai bayangan tentang dirinya yang pernah saya ciptakan di kepala saya. Buku ini ditulis karena saya perlu membongkar mesin waktu, kembali ke hari-hari di mana saya buta, dan memahami bagaimana saya bisa mencintai seorang wanita yang pada akhirnya menjadi pendusta ulung, hanya untuk memuaskan ego ibunya.
Ini adalah memoar tentang bagaimana saya kalah. Bukan kalah dari saingan, melainkan kalah dari sebuah bayang-bayang.