Judul :
LOCAL INSTRUCTIONAL THEORY DALAM PENDIDIKAN MATEMATIKA REALISTIK INDONESIA
PENULIS:
Dwi Novita Sari, S.Pd.I.,M.Pd
Prof. Dr. Hasratuddin, M.Pd
Dr. KMS. M.Amin.Fauzi, M.Pd
Dr. Edy Surya, M.Si
Dr. Izwita Dewi, M.Pd
Dr. E. Elvis Napitupulu, M.Si
SINOPSIS:
Pembelajaran matematika tidak semestinya berhenti pada penguasaan rumus, prosedur, dan penyelesaian soal. Matematika perlu dihadirkan sebagai pengetahuan yang dekat dengan kehidupan peserta didik sehingga mereka dapat memahami bahwa konsep-konsep matematika sebenarnya hadir dalam berbagai aktivitas di lingkungan sekitarnya.
Matematika tidak hanya ditemukan di dalam buku dan ruang kelas. Matematika juga hidup dalam budaya, tradisi, dan aktivitas masyarakat. Ketika budaya menjadi titik awal pembelajaran, peserta didik memiliki kesempatan untuk menemukan kembali matematika sebagai bagian dari kehidupannya.
Gagasan tersebut menjadi landasan dalam buku Local Instructional Theory dalam Pendidikan Matematika Realistik, yang mengembangkan lintasan pembelajaran matematika melalui pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) dengan memanfaatkan konteks budaya Pawiwahan Jawa. Tradisi Pawiwahan Jawa tidak hanya dipandang sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai sumber belajar yang dapat membantu peserta didik menemukan berbagai konsep matematika melalui pengalaman yang nyata dan bermakna.
Berbagai unsur dalam Pawiwahan Jawa, seperti janur, tarub, gebyok, kembar mayang, serta ornamen tradisional lainnya, digunakan sebagai konteks dalam aktivitas pembelajaran. Melalui konteks tersebut, peserta didik diarahkan untuk mengamati, mengeksplorasi, berdiskusi, membuat representasi, menemukan pola, serta secara bertahap membangun kembali konsep matematika dari situasi yang mereka kenal menuju bentuk matematika yang lebih formal.
Buku ini secara khusus membahas pengembangan Local Instructional Theory (LIT) melalui Hypothetical Learning Trajectory (HLT). Lintasan pembelajaran dirancang berdasarkan prinsip-prinsip RME, yaitu guided reinvention, didactical phenomenology, dan self-developed models, serta mempertimbangkan berbagai learning obstacle yang dapat muncul dalam proses pembelajaran, meliputi hambatan ontogenik, didaktik, dan epistemologis.
Keunikan LIT yang dikembangkan dalam buku ini terletak pada keterhubungan antara budaya Pawiwahan Jawa, RME, HLT, learning obstacle, komunikasi matematis, dan kecerdasan interpersonal. Peserta didik tidak hanya diarahkan untuk memahami konsep matematika, tetapi juga diberi kesempatan untuk mengemukakan gagasan, menggunakan berbagai representasi matematis, bekerja sama, mendengarkan pendapat teman, serta membangun komunikasi selama proses pembelajaran.
Proses pengembangan LIT dilakukan melalui tahapan yang sistematis. HLT yang telah dirancang kemudian diimplementasikan dalam pembelajaran. Respons dan strategi peserta didik selama proses tersebut menjadi bagian penting dalam melihat kesesuaian antara prediksi dengan kondisi nyata di kelas. Melalui retrospective analysis, lintasan pembelajaran dikaji dan disempurnakan berdasarkan pengalaman implementasi sehingga diperoleh lintasan yang lebih sesuai dengan karakteristik peserta didik.
LIT yang dikembangkan menghasilkan pembelajaran matematika yang kontekstual, sistematis, adaptif, dan bermakna. LIT juga memenuhi kriteria valid, praktis, dan efektif dalam mendukung pembelajaran matematika serta mengembangkan kemampuan komunikasi matematis dan kecerdasan interpersonal peserta didik.
Buku ini diperuntukkan bagi dosen, guru matematika, mahasiswa pendidikan matematika, peneliti pendidikan, serta pemerhati pembelajaran berbasis budaya. Lebih dari sekadar menawarkan sebuah rancangan pembelajaran, buku ini mengajak pembaca melihat bahwa budaya lokal dapat menjadi sumber pengetahuan yang kaya untuk menghadirkan pembelajaran matematika yang dekat dengan kehidupan peserta didik.
Dari budaya, peserta didik menemukan konteks. Dari konteks, mereka menemukan matematika. Dan melalui matematika, mereka membangun pengalaman belajar yang lebih bermakna